Saturday, April 27, 2013

Rasulullah saw bersabda, " Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam keadaan bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaknya. (HR. Abu Daud) 

Pelajaran yang dapat kita ambil faedahnya dari hadist diatas:


1. Hindarilah berdebat
Berdebat sering kali memicu perpecahan. Karena dengan berdebat maka akan terjadi perselisihan pendapat baik dalam ucapan, bahasa tubuh hingga akhirnya berujung pada perpecahan dan permusuhan.


Berdebat akan membuang waktu dan pikiran dengan percuma. Karena setiap manusia memiliki hak untuk berpendapat yang pasti belum tentu sama maka sia sialah usaha kita untuk berusaha memaksakan kehendak ego dengan berdebat.

Berdebat bisa membuat sesuatu yang benar menjadi salah dan sesuatu yang salah menjadi benar. Karena yang menjadi pemenang dalam debat adalah mereka yang mampu memutar balikkan kata- kata, bukti, bahasa sehingga suatu yang salah seakan bisa jadi benar. Sedangkan yang namanya kebenaran itu tidak perlu untuk diperdebatkan karena tidak akan berubah kedudukan kebenaran dimata Allah SWT secerdik apapun kita mengelak, karena semua yang perbuat akan kau pertanggung jawabkan kelak di hari pembalasan.

2. Jangan berdusta walau cuma iseng atau bercanda
Dusta atau bohong dapat merugikan orang lain yang mempercayai perkataanya dan orang lain yang dibicarakan. Dusta akan menimbulkan fitnah. fitnah akan menimbulkan permusuhan dan perpecahan. karena fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengajak istri dan para sahabatnya bercanda dan bersenda gurau untuk mengambil hati serta membuat mereka gembira. Namun canda beliau tidak berlebihan, tetap ada batasnya. Bila tertawa, beliau tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. Begitu pula dalam bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam beberapa hadits yang menceritakan seputar bercandanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Aku belum pernah melihat Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan amandelnya, namun beliau hanya tersenyum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pun menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad. Sanadnya Shahih)

Rasullullah pun telah memberi ancaman terhadap orang yang berdusta untuk membuat orang lain tertawa dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Celakalah seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)

3. Menjadi manusia yang berakhlak mulia
Jadikanlah Al Quran dan Hadist sebagai pedoman dalam berperilaku InsyAllah kau akan menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Dan manusia yang paling baik akhlaknya adalah Rasul Muhammad SAW. maka hendaklah kita teladani ucapan, perilaku dan perbuatan beliau.

Berakhlak dengan akhlak yang mulia bukan hanya asesori pelengkap dalam agama ini. Bahkan ia menjadi sesuatu yang sangat penting hingga Allah SWT mengutus Nabi akhir zaman SAW untuk mengemban misi menyempurnakan akhlak mulia.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Ahmad)
Oleh karena kesempurnaan akhlak adalah bagian dari tujuan yang sangat penting dalam agama ini, maka memilikinya akan menempatkan seseorang dalam derajat yang sangat mulia di sisi Allah. Derajat orang-orang yang memiliki akhlak mulia adalah derajatnya orang bertakwa, dan derajat takwa adalah derajat terbaik di sisi Allah SWT.

“Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Tirmidzi)
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Tirmidzi)
Jelaslah bahwa memiliki akhlak mulia adalah pencapaian terbaik bagi keimanan seorang mu’min.

Wallahu'alam bishshowab


10 comments:

Anonymous said...

diam itu emas..

herizal alwi said...

Nice.........

sitti masitoh shahib said...

bicara yang baik atau diam.. :)

frendy said...

Jangan berdebat walaupun tahu kalau kita benar..itu sangat berat..tapi dengan jaminan dari Rosulullah SAW semoga seberat apapun itu kita bisa tahan..

Syukri Muhyiddin said...

Segala Puji bagi Allah SWT Tuhan yg Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

hENdRi said...

good

verci zahbaharta said...

Enak ya klo liat komennya gak ada debat atau perselisihan :)

Yanto Saefuloh said...

Semoga bermanfaat untuk kita semua,Amiin

Anonymous said...

ya Allah hamba ingin menikah

fortyone shop said...

Terkadang memang cukup sulit untuk keluar dari perdebatan, cara yang lebih baik ya hindari perdebatan itu sendiri. Artikel bermanfaat

Post a Comment