Thursday, June 27, 2013

Tsa'labah : Harta Membawa Kufur

Siang itu Rasulullah sedang salat berjamaah bersama para sahabatnya. Di antara deretan sahabat yang makmum di belakang Rasulullah, tampak seorang tengah baya yang kusut rambutnya dan berpakaian lusuh, Ia dikenal sebagai seorang sahabat Rasulullah yang tekun beribadah, bernama Tsa' labah. 
Setelah Rasulullah menyelesaikan salat, Tsa'labah segera beranjak pulang tanpa membaca wirid dan berdoa terlebih dahulu. Rasulullah pun menegurnya, "Tsa'labah, mengapa engkau tergesa-gesa pulang? Tidakkah engkau berdoa terlebih dahulu. Bukanlah tergesa-gesa keluar dari masjid adalah kebiasaan orang-orang munafik."
Tsa'labah menghentikan langkahnya, ia sangat malu ditegur oleh Rasulullah. Tetapi, apa mau dikata, terpaksa ia berterus terang kepada Rasulullah. "Wahai Rasulllah, saya hanya memiliki sepasang pakaian untuk salat dan saat ini istriku di rumah belum melaksanakannya salat karena menunggu pakaian yang aku kenakan ini. Pakaian yang hanya sepasang ini kami pergunakan salat secara bergantian. Kami sangat miskin. Untuk itu wahai Rasulullah, jika engkau berkenan, doakanlah kami agar Allah menghilangkan semua kemiskinan kami ini dan memberi rezeki yang banyak." 
Rasulullah tersenyum mendengar penuturan Tsa'labah, lalu beliau berkata, "Tsa'labah sahabatku, engkau dapat mensyukuri hartamu yang sedikit itu lebih baik dari pada engkau bergelimang harta tetapi engkau menjadi manusia yang kufur. 
Nasihat Rasulullah sedikit menghibur hati Tsa'labah, karena sesungguhnya yang ada dalam benaknya adalah dia sudah bosan menjalani hidup yang serba kekurangan. Satu-satunya cara agar cepat menjadi kaya adalah memohon doa kepada Rasulullah. Doa seorang utusan Allah pasti didengar Allah. Itulah yang selalu menjadi angan-angan Tsa'labah hingga keesokan harinya ia kembali menemui Rasululllah, dan memohon agar beliau mau mendoakannya menjadi orang kaya. 
Rasulullah kembali menasihati, "Wahai Tsa'Labah. Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, seandainya aku memohon kepada Allah agar Gunung Uhud menjadi emas, Allah pasti mengabulkannya. Tetapi, apa yang terjadi jika Gunung Uhud benar-benar menjadi emas? Masjid-masjid akan sepi! Semua orang akan sibuk memupuk kekayaan dari gunung itu. Aku khawatir jika engkau menjadi orang kaya, engkau akan lupa beribadah kepada Allah." 
Tsa'labah terdiam mendengar nasihat Rasulullah, namun dalam hatinya berkecamuk. "Aku mengerti Rasululllah tidak mau mendoakan karena beliau sayang kepadaku. Beliau khawatir jika aku menjadi orang kaya, aku akan menjadi golongan orang-orang yang khufur. Tetapi aku tidak seburuk itu, justru dengan kekayaan yang aku miliki, aku akan membela agama ini dengan hartaku." Akhirnya Tsa'labah pulang. Ia merasa malu jika terus memaksa Rasulullah agar mau mendoakannya. Tapi keesokan harinya ia tidak kuasa menahan dorongan hati untuk segera terbebas dari belenggu kemiskinan. Ditemuinya Rasululllah, dan memohon untuk ketiga kalinya agar Rasululllah mau mendoakan. Kali ini Rasulullah tidak menolak keinginan Tsa'Labah. Beliau menengadahkan tangan kelangit sambil berkata, "Ya Allah, limpahkanlah rejeki-Mu kepada Tsa'Labah." Kemudian Rasulullah memberikan kambing betina yang sedang bunting kepada Tsa'Labah. "Peliharalah kambing ini baik-baik", pesan Rasululllah. Tsa'Labah pun pulang membawa kambing pemberian Rasululllah dengan hati berbunga-bunga. Dengan modal kambing serta doa Rasulullah, ia yakin akan menjadi orang yang kaya raya. 
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, Tsa'Labah yang dulu miskin dan lusuh telah berubah menjadi orang yang kaya dan terpandang. Kambingnya berjumlah ribuan. Di setiap lembah dan bukit terdapat kambingnya Tsa'Labah. Ia semakin disibukkan dengn harta kekayaannnya. Jika dulu setiap salat lima waktu selalu berjamaah di masjid, sekarang Tsa'Labah datang ke masjid hanya pada waktu salat juhur dan ashar saja. Ketika jumlah kambingnya terus bertambah dan Tsa'Labah disibukkan olehnya, ia pun datang ke masjid ketika salat jumat.
Begitu derasnya harta yang mengalir di rumah Tsa'labah, membuat ia lebih senang tinggal di rumah dari pada jauh-jauh datang ke masdjid. Bahkan, kini untuk salat jumat pun ia sudah tak datang lagi ke masjid.

Demikianlah sepenggal kisah tentang Sya'labah, dari kisah diatas bisa dipetik hikmahnya bahwa manusia tidak pernah tahu apa yang terbaik baginya. Seperti firman Allah ta'ala:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah : 216) Dengan merenungi cerita di atas kita seharusnya mensyukuri nikmat terbesar yang di berikan Allah ta'ala kepada kita yaitu nikmat Islam dan Iman. Karena apalah artinya dunia dan segala isinya ini apabila harus ditukar dengan kenikmatan di akhirat kelak. Dan untuk mencapai tujuan kenikmatan di akhirat, tak ada cara lain kecuali keteguhan iman dalam menghadapi segala ujian dan tipu daya dunia yang semu ini.. 
Wallahualam bisshowab...

1 comments:

Kamal Mat Zain said...

maaf, ingin tanya sikit. boleh kah confirm betul kah peristiwa ini berlaku. adakah Tsa'labah yg diceritakan sama dgn sahabat nabi yg terlibat dgn perang badar. Wallahualam...

Post a Comment